GAMBARAN
SIKLUS MENTRUASI BERDASARKAN STATUS GIZI SISWI
MAN
TEMBORO MAGETAN
Tugas Akhir
Untuk memenuhi Ujian Akhir Semester
Mata kuliah
Bahasa Indonesia
Yang diampu oleh:
DWI ROHMAN SOLEH, S.S.,M.Pd
Oleh:
LUTFI KHOLIFATUL JANNAH
P27824213036
KEMENTERIAN
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN
KEBIDANAN
PROGRAM
STUDI DIII KEBIDANAN
KAMPUS
MAGETAN
MAGETAN
2014
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan karunia Nya
sehingga penyusunan karya tulis ilmiah yang berjudul “Gambaran Siklus Mentruasi
Berdasarkan Status Gizi Pada Siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan” dapat
terselesaikan. Karya tulis ilmiah ini disusun sebagai tugas akhir semester satu
pada studi Kebidanan Magetan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.
Dalam
penyusunan karya ilmiah ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terimakasih
kepada :
1. Ibu Sulikah S.ST,M. M.Kes, selaku kaprodi Studi
Kebidanan Magetan Politeknik Kesehatan Surabaya.
2. Bapak Dwi Rohman Sholeh, S.S.,M.Pd selaku
pembimbing dalam pembuatan karya tulis ilmiah.
3. Ayah, ibu dan adik-adikku atas cinta, dukungan
dan do’a yang selalu diberikan sehingga karya tulis ilmiah ini selesai pada
waktunya.
4. Teman-teman yang selalu memberi dukungan.
Penulis
menyadari bahwa dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membantu demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Akhirnya peneliti
berharap karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak.
Magetan, Januari 2014
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Ciri
kedewasaan pada seorang wanita saat ini adalah terjadinya menstruasi. Mentruasi
bukanlah suatu penyakit. Mentruasi merupakan puncak dari serangkaian perubahan
yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai
tanda ia sudah mampu hamil. Menstruasi merupakan proses pelepasan dinding rahim
(Endrometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi berulang-ulang
setiap bulan, kecuali pada saat kehamilan. Mentruasi yang berulang setiap bulan
akhirnya akan membentuk siklus mentruasi,siklus mentruasi adalah jarak antara
tanggal mulainya mentruasi yang lalu dan mulainya mentruasi berikutnya. Siklus
mentruasi setiap wanita tidak sama,umumnya berkisar antara 21-25 hari dan
memiliki rata-rata 28 hari.
Bagi
remaja putri,mengalami siklus mentruasi tidak teratur pada masa-masa awal
adalah hal yang normal. Remaja putri akan mengalami jarak antar dua siklus
berlangsung selama dua bulan atau dalam satu bulan terjadi dua siklus dan
setelah beberapa lama siklus mentruasi akan menjadi teratur. Siklus mentruasi
remaja putri dipengaruhi oleh stress fisik (beban kerja yang terlalu berat,
olahraga yang dipacu untuk berlatih terlalu keras), stress psikis, terlalu
berat, dan terlalu kurus. Badan yang terlalu kurus pada remaja dapat
mengakibatkan terjadinya gangguan siklus mentruasi. Hal itu bisa mengganggu
axis (pelepasan oozit)yang mengakibatkan mentruasi terganggu. Sedangkan pada
keadaan obesitas dapat memberikan dampak penyakit liver, kantung empedu, penyakit
diabetes, penyakit tekanan darah tinggi, masalah tidur , dan pubertas atau
menarche dini pada remaja putri.
Adanya
siklus mentruasi yang tidak teratur dapat berdampak serius bila terus di
diamkan. Mentruasi tidak teratur dapat menjadi tanda seorang wanita kurang
subur (infertil).dan dampak dari jumlah perdarahan yang banyak dapat
menyebabkan seseorang mengalami anemia (kurang darah). Siklus mentruasi yang
tidak teratur dapat dicegah dengan mengupayakan status gizi remaja putri pada
kondisi normal. Penanganan yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi remaja
adalah dengan memberikan asupan nutrisi yang optimal sehingga pertumbuhan
potensialnya pun akan berlangsung
berlangsung dengan baik. Penanganan untuk remaja putri yang memiliki
status gizi lebih adalah dengan memotivasi remaja obesitas tentang pentingnya
pengurusan tubuh serta memberikan diet rendah kalori yang seimbang untuk
pengurusan tubuh serta menganjurkan remaja obesitas untuk olahraga yang
teratur.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah.
Banyak hal penyebab kenapa siklus
haid menjadi panjang atau sebaliknya. Penanganan kasus dengan siklus haid yang
tidak normal, tidak berdasarkan kepada panjang atau pendeknya sebuah siklus
haid, melainkan berdasarkan kelainan yang dijumpai seperti:
1.
Fungsi hormon terganggu
Haid terkait erat dengan sistem
hormon yang diatur di otak, tepatnya di kelenjar hipofisa. Sistem
hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung telur untuk memproduksi sel telur.
Bila sistem pengaturan ini terganggu, otomatis siklus haid pun akan terganggu.
2. Kelainan Sistemik
Tubuh sangat gemuk atau kurus dapat
mempengaruhi siklus haid karena sistem metabolisme di dalam tubuhnya tak
bekerja dengan baik, atau wanita yang menderita penyakit diabetes, juga akan
mempengaruhi sistem metabolisme sehingga siklus haidnya pun tak teratur.
3. Stress fisik dan stress
psikis
Stress akan mengganggu sistem
metabolisme di dalam tubuh, karena stress, wanita akan menjadi mudah lelah,
berat badan turun drastis, bahkan sakit-sakitan, sehingga metabolisme
terganggu. Bila metabolisme terganggu, siklus haid pun ikut terganggu.
4. Kelenjar Gondok
Terganggunya fungsi kelenjar gondok/tiroid
juga bisa menjadi penyebab tidak teraturnya siklus haid. Gangguan bisa
berupa produksi kelenjar gondok yang terlalu tinggi (hipertiroid) maupun
terlalu rendah, yang dapat mengakibatkan sistem hormonal tubuh ikut terganggu.
5. Hormon prolaktin berlebih
Hormon prolaktin dapat menyebabkan
seorang wanita tidak haid, karena memang hormon ini menekan tingkat kesuburan.
Pada wanita yang tidak sedang menyusui, hormone prolaktin juga bisa
tinggi, buasanya disebabkan kelainan pada kelenjar hipofisis yang
terletak di dalam kepala (Sahara, 2009).
1.3 Pembatasan masalah
Penelitian
ini dibatasi pada gambaran siklus mentruasi berdasarkan status gizi pada siswi
kelas X dan XI Man Temboro Magetan.
1.4 Rumusan masalah
Dari latar
belakang dan identifikasi factor penyebab masalah, peneliti merumuskan masalah
penelitian sebagai berikut “Bagaimana gambaran siklus mentruasi
berdasarkan status gizi pada siswi kelas
X dan XI Man Temboro Magetan ?”
1.5 Tujuan penelitian
1.5.1 Tujuan umum
Mengetahui
gambaran siklus mentruasi berdasarkan status gizi pada siswi kelas X dan XI Man
Temboro Magetan.
1.5.2
Tujuan
khusus
1.
Mengidentifikasi
siklus mentruasi pada siswi kelas X dan XI Man Temboro MAgetan.
2.
Mengidentifikasi
status gizi berdasarkan BB/U pada siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan
3.
Mengidentifikasi
siklus mentruasi berdasarkan status gizi pada siswa kelas X dan XI Man Temboro
Magetan.
4.
Mengetahui
siklus mentruasi siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan
5.
Membuktikan
hubungan antara status gizi pada siklus mentruasi siswi Man Temboro Magetan.
1.6
Manfaat
Penelitian
1.6.1 Manfaat Teoritis
Hasil
penelitian menggambarkan siklus mentruasi siswa berdasarkan status gizi.
1.6.2
Manfaat
Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberikan masukan bagi para siswi untuk menjaga status gizi dalam
keadaan normal agar tidak terjadi gangguan siklus menstruasi. Penelitian ini
juga dapat menjadi dasar dan masukan yang bermanfaat bagi penelitian
selanjutnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan diuraikan tentang penelitian terdahulu,
konsep status gizi dan konsep siklus mentruasi.
2.1 Penelitian
terdahulu
Penelitian dayanti (2004) dengan judul “Hubungan Status
Gizi (Indeks BB/U) dan Frekuensi Olahraga Dengan Pola Siklus Mentruasi Pada
Siswi SMP 1 Galur Kulon Progo”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
hubungan status gizi berdasar pada indeks BB/U dan frekuensi olahraga dengan
pola siklus mentruasi pada siswi SMP 1 Galur tahun 2004. Populasi penelitian
ini adalah siswi kelas II yang sudah mengalami mentruasi berjumlah 70 orang.
Jumlah sampel sebanyak 45 orang. Jenis penelitian adalah analitik, dengan
pendekatan metode survey dan pendekatan waktu cross sectional, pengambilan data menggunakan kuosioner dan
pengukuran antropometri. Uji statistik
yang digunakan adalah uji korelasi pearson
product moment dan rank spearman dengan
tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar perlu
adanya tambahan pengetahuan kepada siswi bahwa melakukan olahraga secara
teratur (3-4) perminggu dapat membantu menghindari pola siklus mentruasi yang
tidak teratur serta dapat menjaga kesegaran jasmani.
2.2 Konsep status gizi
2.2.1 Pengertian
Gizi adalah elemen yang terdapat
dalam makanan dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti halnya
karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Gizi yang seimbang
dibutuhkan oleh tubuh, terlebih pada balita yang masih dalam masa pertumbuhan.
Dimasa tumbuh kembang balita yang berlangsung secara cepat dibutuhkan makanan
dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dan seimbang.
Status gizi adalah suatu ukuran
mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang
dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Status gizi dibagi
menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih
(Almatsier, 2005).
Status gizi normal merupakan suatu ukuran
status gizi dimana terdapat keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke
dalam tubuh dan energi yang dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan
individu. Energi yang masuk ke dalam tubuh dapat berasal dari karbohidrat,
protein, lemak dan zat gizi lainnya (Nix, 2005). Status gizi normal merupakan
keadaan yang sangat diinginkan oleh semua orang (Apriadji, 1986).
Status gizi kurang atau yang lebih sering
disebut undernutrition merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi
yang masuk lebih sedikit dari energi yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi
karena jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari anjuran kebutuhan individu
(Wardlaw, 2007).
Status gizi lebih (overnutrition) merupakan keadaan gizi
seseorang dimana jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh lebih besar dari
jumlah energi yang dikeluarkan (Nix, 2005). Hal ini terjadi karena jumlah
energi yang masuk melebihi kecukupan energi yang dianjurkan untuk seseorang,
akhirnya kelebihan zat gizi disimpan dalam bentuk lemak yang dapat
mengakibatkan seseorang menjadi gemuk (Apriadji, 1986).
2.2.2 Penelitian status gizi
Menurut
supariasa dkk (2001), status gizi dapat dinilai secara langsung maupun tidak
langsung.
1.Penilaian secara langsung
a.
Antropometri
Antropometri merupakan salah satu cara
penilaian status gizi yang berhubungan dengan ukuran tubuh yang disesuaikan
dengan umur dan tingkat gizi seseorang. Pada umumnya antropometri mengukur
dimensi dan komposisi tubuh seseorang (Supariasa, 2001). Seperti umur, berat
badan, tinggi badan, biokimia dan biofisik. Metode antropometri sangat berguna
untuk melihat ketidakseimbangan energi dan protein. Akan tetapi, antropometri
tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi zat-zat gizi yang spesifik
(Gibson, 2005).
b.
Klinis
Pemeriksaan klinis merupakan cara
penilaian status gizi berdasarkan perubahan yang terjadi yang berhubungan erat
dengan kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi. Pemeriksaan klinis dapat
dilihat pada jaringan epitel yang terdapat di mata, kulit, rambut, mukosa
mulut, dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh (kelenjar tiroid)
(Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
c.
Biokimia
Pemeriksaan biokimia disebut juga cara
laboratorium. Pemeriksaan biokimia pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi
adanya defisiensi zat gizi pada kasus yang lebih parah lagi, dimana dilakukan
pemeriksaan dalam suatu bahan biopsi sehingga dapat diketahui kadar zat gizi
atau adanya simpanan di jaringan yang paling sensitif terhadap deplesi, uji ini
disebut uji biokimia statis. Cara lain adalah dengan menggunakan uji gangguan
fungsional yang berfungsi untuk mengukur besarnya konsekuensi fungsional dari
suatu zat gizi yang spesifik. Untuk pemeriksaan biokimia sebaiknya digunakan
perpaduan antara uji biokimia statis dan uji gangguan fungsional (Baliwati,
2004).
d.
Biofisik
Pemeriksaan
biofisik merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat kemampuan
fungsi jaringan dan melihat perubahan struktur jaringan yang dapat digunakan
dalam keadaan tertentu, seperti kejadian buta senja (Supariasa, 2001).
2. Penilaian status gizi secara
tidak langsung
a.
Survei Konsumsi Makanan
Survei
konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat
jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh individu maupun keluarga. Data
yang didapat dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif
dapat mengetahui jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi, sedangkan data
kualitatif dapat diketahui frekuensi makan dan cara seseorang maupun keluarga dalam
memperoleh pangan sesuai dengan kebutuhan gizi (Baliwati, 2004).
b.
Statistik Vital
Statistik
vital merupakan salah satu metode penilaian status gizi melalui data-data
mengenai statistik kesehatan yang berhubungan dengan gizi, seperti angka kematian
menurut umur tertentu, angka penyebab kesakitan dan kematian, statistik
pelayanan kesehatan, dan angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan
kekurangan gizi (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
c.
Faktor Ekologi
Penilaian status gizi dengan menggunakan
faktor ekologi karena masalah gizi dapat terjadi karena interaksi beberapa
faktor ekologi, seperti faktor biologis, faktor fisik, dan lingkungan budaya.
Penilaian berdasarkan faktor ekologi digunakan untuk mengetahui penyebab
kejadian gizi salah (malnutrition) di suatu masyarakat yang nantinya akan
sangat berguna untuk melakukan intervensi gizi (Supariasa, 2001)
2.3 Indeks Antropometri
Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa
parameter. Indeks antropometri bisa merupakan rasio dari satu pengukuran
terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur dan
tingkat gizi. Salah satu contoh dari indeks antropometri adalah Indeks Massa
Tubuh (IMT) atau yang disebut dengan
Body Mass Index (Supariasa, 2001). IMT
merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang
berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan
berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia Faktor-faktor
harapan hidup yang lebih panjang. IMT hanya dapat digunakan untuk orang dewasa
yang berumur diatas 18 tahun.
Dua parameter yang berkaitan dengan pengukuran Indeks
Massa Tubuh, terdiri dari :
1. Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu parameter massa tubuh
yang paling sering digunakan yang dapat mencerminkan jumlah dari beberapa zat
gizi seperti protein, lemak, air dan mineral. Untuk mengukur Indeks Massa
Tubuh, berat badan dihubungkan dengan tinggi badan (Gibson, 2005).
2. Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter ukuran panjang dan dapat
merefleksikan pertumbuhan skeletal (tulang) (Hartriyanti dan Triyanti,
2007).
2.3.1. Cara Mengukur
Indeks Massa Tubuh
Indeks Massa Tubuh
diukur dengan cara membagi berat badan dalam satuan kilogram dengan tinggi
badan dalam satuan meter kuadrat (Gibson, 2005).
2.3.2 Kategori Indeks
Massa Tubuh
Untuk
mengetahui status gizi seseorang maka ada kategori ambang batas IMT yang
digunakan, seperti yang terlihat pada tabel 2.1 yang merupakan ambang batas IMT
untuk Indonesia.
|
Kategori
|
Keterangan
|
IMG
Kg/m2
|
|
Kurus
|
Kekurangan
berat badan tingkat berat
|
<
17,0
|
|
|
Kekurangan
berat badan tingkat ringan
|
17,1
– 18,4
|
|
Normal
|
|
18,5
– 25,0
|
|
Gemuk
|
Kelebihan
berat badan tingkat ringan
|
25,1
– 27,0
|
|
|
Kelebihan
berat badan tingkat berat
|
≥27,0
|
Sumber : Depkes, 2003b
Pada tabel 2.2,
dapat dilihat kategori IMT berdasarkan klasifikasi yang telah ditetapkan oleh
WHO.
Tabel 2.2 Kategori IMT
berdasarkan WHO (2000)
|
Kategori IMT
|
(kg/m2)
|
|
Underweight
|
<18,5
|
|
Normal
|
18,5 – 24,99
|
|
Overweight
|
> 25,00
|
|
Preobese
|
25,00 – 29,99
|
|
Obesitas
tingkat 1
|
30,00 – 34,99
|
|
Obesitas
timgkat 2
|
35,00 – 34,99
|
|
Obesitas
tingkat 3
|
> 40,00
|
Sumber
: WHO (2000) dalam Gibson (2005)
2.4
Permasalahan gizi
Masalah
gizi di Indonesia dan Negara bekembang pada umumnya masih di dominasi oleh
maslah KEP (kurang energy vitamin), masalah anemia besi, masalah GAKY (gangguan
akibat kekurangan yodium), masalah KVA (kurang vitamin A), dan masalah obesitas
terutama di kota-kota besar. Pada Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi
tahun1993, telah terungkap bahwa Indonesia mengalami masalah gizi ganda yang
artinya sementara masalah gizi kurang belum dapat diatasi secara menyeluruh,
sudah muncul masalah baru, yaitu berupa
gizi lebih (Supariasa dkk,2001:1)
Dalam
Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (1979), digambarkan beberapa factor yang
dapat menyebabkan timbulnya masalah gizi
serta kaitan satu fktor dengan factor yang lain.
Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi
:
1. Zat
gizi dalam makanan
2. Ada
tidaknya program pemberian makanan diluar keluarga
3. Daya
beli keluarga
4. Kebiasaan
makanan sehari-hari
5. Pemeliharaan
kesehatan
6. Lingkungan
fisik dan social
(sumber
: Cail dan Levimon, 1871 dalam Supariasa dkk(2001: 6))
Masalah gizi yang sering terjadi
pada remaja adalah Anemia, gizi kurang (KEK) dan gizi lebih(kegemukan hingga
obesitas)
1.
Anemia
a. Pengertian
Anemia
adalah rendahnya kadar hemoglobin(hb)dalam darah (Moehji, 2002:93),
b. Penyebab
Penyebab
anemia dapat bermacam-macam, akan tetapi yang paling banyak di temukan adalah
akibat kekurangan zat besi, asam folat dan vitamin B12. Anemia gizi dapat terjadi akibat
rendahnya kadar zat besi dalam makanan, tetapi dapat juga karena akibat
perdarahan yang banyak akibat penyakit kronis, penurunan produksi sel,
pembesaran Limpa. Kerusakan mekanik pada sel darah merah. Penyakit hemoglobin
C. Penyakit hemoglobin S-C. Thalasemia.Reaksi autonium terhadap sel darah
merah. Kerusakan pada sumsum tulang atau ginjal. dan penghancuran sel yang
berlebihan.
c. Diagnosis
Rendahnya
kadar Hb dalam darah dapat dilihat apabila bagian dalam kelopak mata terlihat
berwarna pucat. Pemeriksaan lebih teliti dapat dilakukan terhadap contoh darah
yang diambil dari ujung jari dengan menggunakan alat Hb meter. Kadar baku dalam
darah untuk pria/wanita usia 10-14 adalah 12,5 (Moehji, 2002:93)
d. Komplikasi
Dampak
anemia pada remaja putri yaitu tubuh
pada masa pertumbuhan mudah terinfeksi, mengakibatkan kebugaran/kesegaran tubuh
berkurang, mengurangi rasa semangat belajar, sehingga pada saat akan menjadi
calon ibu dengan keadaan beresiko tinggi. (Anonim, 2004).
e. Pencegahan
Pencegahan
anemia akibat kekurangan gizi dapat dilakukan dengan jalan memberikan
suplementasi zat besi kepada remaja putri. Tujuan pemberian suplementasi,
meningkatkan status gizi & kesehatan remaja putri yang anemia, melihat efek
suplementasi pada peningkatan kadar Hb dan zat besi/zinc dalam darah, melihat efek suplementasi pada penurunan kejadian
sakit, melihat efek suplementasi pada peningkatan berat badan,tinggi badan dan
indeks masa tubuh (Anonim,2004).
2. Masalah Gizi
Kurang
Konsumsi makanan berpengaruh
terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal
terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien,
sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja,
dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Gizi kurang merupakan
suatu keadaan yang terjadi akibat tidak terpenuhinya asupan makanan (Sampoerno,
1992).
Gizi kurang dapat terjadi karena
seseorang mengalami kekurangan salah satu zat gizi atau lebih di dalam tubuh
(Almatsier, 2001). Akibat yang terjadi apabila kekurangan gizi antara lain
menurunnya kekebalan tubuh (mudah terkena penyakit infeksi), terjadinya
gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, kekurangan energi yang
dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja, dan sulitnya seseorang dalam
menerima pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi (Jalal dan Atmojo, 1998).
Gizi kurang merupakan salah satu
masalah gizi yang banyak dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang.
Hal ini dapat terjadi karena tingkat pendidikan yang rendah, pengetahuan yang
kurang mengenai gizi dan perilaku belum sadar akan status gizi. Contoh masalah
kekurangan gizi, antara lain KEP (Kekurangan Energi Protein), GAKI(Gangguan
Akibat Kekurangan Iodium), Anemia Gizi Besi (AGB) (Apriadji, 1986).
3. Masalah Gizi Lebih
Status gizi
lebih merupakan keadaan tubuh seseorang yang mengalami kelebihan berat badan,
yang terjadi karena kelebihan jumlah asupan energi yang disimpan dalam bentuk
cadangan berupa lemak. Ada yang menyebutkan bahwa masalah gizi lebih identik
dengan kegemukan. Kegemukan dapat menimbulkan dampak yang sangat berbahaya
yaitu dengan munculnya penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus,
penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan ginjal dan masih banyak lagi
(Soerjodibroto, 1993).
Masalah gizi
lebih ada dua jenis yaitu overweight dan obesitas. Batas IMT untuk
dikategorikan overweight adalah antara 25,1 – 27,0 kg/m2, sedangkan obesitas
adalah ≥ 27,0 kg/m2. Kegemukan (obesitas) dapat terjadi mulai dari masa bayi,
anak-anak, sampai pada usia dewasa. Kegemukan pada masa bayi terjadi karena
adanya penimbunan lemak selama dua tahun pertama kehidupan bayi. Bayi yang menderita kegemukan maka ketika
menjadi dewasa akan mengalami kegemukan pula. Kegemukan pada masa anak-anak
terjadi sejak anak tersebut berumur dua tahun sampai menginjak usia remaja dan
secara bertahap akan terus mengalami kegemukan sampai usia dewasa. Kegemukan
pada usia dewasa terjadi karena seseorang telah mengalami kegemukan dari masa
anak-anak (Suyono, 1986).
2.4 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status
Gizi
2.4.1 Umur
Kebutuhan energi individu
disesuaikan dengan umur, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas. Jika kebutuhan
energi (zat tenaga) terpenuhi dengan baik maka dapat meningkatkan produktivitas
kerja, sehingga membuat seseorang lebih semangat dalam melakukan pekerjaan.
Apabila kekurangan energi maka produktivitas kerja seseorang akan menurun,
dimana seseorang akan malas bekerja dan cenderung untuk bekerja lebih lamban.
Semakin bertambahnya umur akan semakin meningkat pula kebutuhan zat tenaga bagi
tubuh. Zat tenaga dibutuhkan untuk mendukung meningkatnya dan semakin
beragamnya kegiatan fisik (Apriadji,1986).
2.4.2. Frekuensi Makan
Frekuensi konsumsi makanan dapat
menggambarkan berapa banyak makanan yang dikonsumsi seseorang. Menurut Hui
(1985), sebagian besar remaja melewatkan satu atau lebih waktu makan, yaitu
sarapan. Sarapan adalah waktu makan yang paling banyak dilewatkan, disusul oleh
makan siang. Ada beberapa alasan yang menyebabkan seseorang malas untuk
sarapan, antara lain mereka sedang dalam keadaan terburu-buru, menghemat waktu,
tidak lapar, menjaga berat badan dan tidak tersedianya makanan yang akan
dimakan. Melewatkan waktu makan dapat menyebabkan penurunan konsumsi energi,
protein dan zat gizi lain (Brown et al, 2005).
Pada bangsa-bangsa yang frekuensi makannya dua kali dalam sehari lebih
banyak orang yang gemuk dibandingkan bangsa dengan frekuensi makan sebanyak
tiga kali dalam sehari. Hal ini berarti bahwa frekuensi makan sering dengan
jumlah yang sedikit lebih baik daripada jarang makan tetapi sekali makan dalam
jumlah yang banyak (Suyono, 1986).
2.4.3. Asupan Energi
Energi merupakan asupan utama yang
sangant diperlukan oleh tubuh. Kebutuhan energi yang tidak tercukupi dapat
menyebabkan protein, vitamin, dan mineral tidak dapat digunakan secara efektif.
Untuk beberapa fungsi metabolisme tubuh, kebutuhan energi dipengaruhi oleh BMR
(Basal Metabolic Rate), kecepatan pertumbuhan, komposisi tubuh dan aktivitas
fisik (Krummel & Etherton, 1996).
Energi yang diperlukan oleh tubuh
berasal dari energi kimia yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi. Energi
diukur dalam satuan kalori. Energi yang berasal dari protein menghasilkan 4
kkal/gram, lemak 9 kkal/gram, dan karbohidrat 4 kkal/ gram (Baliwati,
2004).
2.4.4. Asupan Protein
Protein merupakan zat gizi yang
paling banyak terdapat dalam tubuh. Fungsi utama protein adalah membangun serta
memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier, 2001). Fungsi lain dari
protein adalah menyediakan asam amino yang diperlukan untuk membentuk enzim
pencernaan dan metabolisme, mengatur keseimbangan air, dan mempertahankan
kenetralan asam basa tubuh. Pertumbuhan, kehamilan, dan infeksi penyakit
meningkatkan kebutuhan protein seseorang (Baliwati, 2004). Sumber makanan yang
paling banyak mengandung protein berasal dari bahan makanan hewani, seperti
telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sedangkan sumber protein nabati
berasal dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Catatan Biro Pusat Statistik
(BPS) pada tahun 1999, menunjukkan secara nasional konsumsi protein sehari
rata-rata penduduk Indonesia adalah 48,7 gram sehari (Almatsier, 2001). Anjuran
asupan protein berkisar antara 10 – 15% dari total energi (WKNPG, 2004).
2.4.5. Asupan Karbohidrat
Karbohidrat
merupakan sumber energi utama bagi kehidupan manusia yang dapat diperoleh dari
alam, sehingga harganya pun relatif murah (Djunaedi, 2001). Sumber karbohidrat
berasal dari padi-padian atau serealia, umbi-umbian, kacang-kacangan dan gula.
Sumber karbohidrat yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia
sebagai makanan pokok adalah beras, singkong, ubi, jagung, talas, dan sagu
(Almatsier, 2001). Karbohidrat menghasilkan 4 kkal / gram. Angka kecukupan
karbohidrat sebesar 50-65% dari total energi. (WKNPG, 2004). WHO (1990)
menganjurkan agar 55 – 75% konsumsi energi total berasal dari karbohidrat
kompleks. Karbohidrat yang tidak mencukupi di dalam tubuh akan digantikan
dengan protein untuk memenuhi kecukupan energi. Apabila karbohidrat tercukupi,
maka protein akan tetap berfungsi sebagai zat pembangun (Almatsier, 2001).
2.4.6. Asupan Lemak
Lemak merupakan cadangan energi di
dalam tubuh. Lemak terdiri dari trigliserida, fosfolipid, dan sterol, dimana
ketiga jenis ini memiliki fungsi terhadap kesehataan tubuh manusia (WKNPG,
2004). Konsumsi lemak paling sedikit adalah 10% dari total energi. Lemak
menghasilkan 9 kkal/ gram. Lemak relatif lebih lama dalam sistem pencernaan
tubuh manusia. Jika seseorang mengonsumsi lemak secara berlebihan, maka akan
mengurangi konsumsi makanan lain. Berdasarkan PUGS, anjuran konsumsi lemak
tidak melebihi 25% dari total energi dalam makanan sehari-hari. Sumber utama
lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan, seperti minyak kelapa, kelapa sawit,
kacang tanah, jagung, dan sebagainya. Sumber lemak utama lainnya berasal dari
mentega, margarin, dan lemak hewan (Almatsier, 2001).
2.4.7. Tingkat Pendidikan
Pendidikan
memiliki kaitan yang erat dengan pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang maka sangat diharapkan semakin tinggi pula pengetahuan orang tersebut
mengenai gizi dan kesehatan. Pendidikan yang tingggi dapat membuat seseorang
lebih memperhatikan makanan untuk memenuhi asupan zat-zat gizi yang seimbang.
Adanya pola makan yang baik dapat mengurangi bahkan mencegah dari timbulnya
masalah yang tidak diinginkan mengenai gizi dan kesehatan (Apriadji, 1986).
Seseorang yang
memiliki tingkat pendidikan tinggi, akan mudah dalam menyerap dan menerapkan
informasi gizi, sehingga diharapkan dapat menimbulkan perilaku dan gaya hidup
yang sesuai dengan informasi yang didapatkan mengenai gizi dan kesehatan.
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan (WKNPG,
2004). Pendidikan juga berperan penting
dalam meningkatkan status gizi seseorang. Pada umumnya tingkat pendidikan
pembantu rumah tangga masih rendah (tamat SD dan tamat SMP). Pendidikan yang
rendah sejalan dengan pengetahuan yang rendah, karena dengan pendidikan rendah
akan membuat seseorang sulit dalam menerima informasi mengenai hal-hal baru di
lingkungan sekitar, misalnya pengetahuan gizi.
Pendidikan dan
pengetahuan mengenai gizi sangat diperlukan oleh pembantu rumah tangga. Selain
untuk diri sendiri, pendidikan dan pengetahuan gizi yang diperoleh dapat
dipraktekkan dalam pekerjaan yang mereka lakukan.
2.4.8 Pendapatan
Pendapatan merupakan salah satu
faktor yang memengaruhi status gizi, Pembantu rumah tangga mendapatkan gaji
(pendapatan) yang masih di bawah UMR (Gunanti, 2005). Besarnya gaji yang
diperoleh terkadang tidak sesuai dengan banyaknya jenis pekerjaan yang
dilakukan. Pendapatan seseorang akan menentukan kemampuan orang tersebut dalam
memenuhi kebutuhan makanan sesuai dengan jumlah yang diperlukan oleh tubuh.
Apabila makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi jumlah zat-zat gizi dibutuhkan
oleh tubuh, maka dapat mengakibatkan perubahan pada status gizi seseorang
(Apriadji, 1986).
Ada dua aspek kunci yang
berhubungan antara pendapatan dengan pola konsumsi makan, yaitu pengeluaran
makanan dan tipe makanan yang dikonsumsi. Apabila seseorang memiliki pendapatan
yang tinggi maka dia dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya (Gesissler,
2005). Meningkatnya pendapatan perorangan
juga dapat menyebabkan perubahan dalam susunan makanan. Kebiasaan makan
seseorang berubah sejalan dengan berubahnya pendapatan seseorang (Suhardjo,
1989). Meningkatnya pendapatan seseorang merupakan cerminan dari suatu
kemakmuran. Orang yang sudah meningkat pendapatannya, cenderung untuk
berkehidupan serba mewah. Kehidupan mewah dapat mempengaruhi seseorang dalam
hal memilih dan membeli jenis makanan. Orang akan mudah membeli makanan yang
tinggi kalori. Semakin banyak mengonsumsi makanan berkalori tinggi dapat
menimbulkan kelebihan energi yang disimpan tubuh dalam bentuk lemak. Semakin
banyak lemak yang disimpan di dalam tubuh dapat mengakibatkan kegemukan
(Suyono, 1986).
2.4.9. Pengetahuan
Tingkat pendidikan seseorang sangat
mempengaruhi tingkat pengetahuannya akan gizi. Orang yang memiliki tingkat
pendidikan hanya sebatas tamat SD, tentu memiliki pengetahuan yang lebih rendah
dibandingkan orang dengan tingkat pendidikan tamat SMA atau Sarjana. Tetapi,
sebaliknya, seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi sekalipun belum
tentu memiliki pengetahuan gizi yang cukup jika ia jarang mendapatkan informasi
mengenai gizi, baik melalui media iklan, penyuluhan, dan lain sebagainya.
Tetapi, perlu diingat bahwa rendah-tingginya pendidikan seseorang juga turut
menentukan mudah tidaknya orang tersebut dalam menyerap dan memahami
pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Berdasarkan hal ini, kita dapat
menentukan metode penyuluhan gizi yang tepat.
Di samping itu, dilihat dari segi kepentingan
gizi keluarga, pendidikan itu sendiri amat diperlukan agar seseorang lebih
tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga dan dapat mengambil
tindakan secepatnya (Apriadji, 1986). Pengetahuan gizi sangat penting, dengan
adanya pengetahuan tentang zat gizi maka seseorang dengan mudah mengetahui
status gizi mereka. Zat gizi yang cukup dapat dipenuhi oleh seseorang sesuai
dengan makanan yang dikonsumsi yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan.
Pengetahuan gizi dapat memberikan perbaikan gizi pada individu maupun masyarakat
(Suhardjo, 1986).
2.5 Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan
Angka kecukupan gizi
yang dianjurkan merupakan suatu ukuran keckupan rata-rata zat gizi setiap hari
untuk semua orang yang disesuiakan dengan golongan umur, jenis kelamin, ukuran
tubuh, aktivitas tubuh untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal dan
mencegah terjadinya defisiensi zat gizi (Depkes, 2005b). Angka Kecukupan Energi
(AKE) merupakan rata-rata tingkat konsumsi energi dengan pangan yang seimbang
yang disesuaikan dengan pengeluaran energi pada kelompok umur, jenis kelamin,
ukuran tubuh, dan aktivitas fisik. Angka Kecukupan Protein (AKP) merupakan
rata-rata konsumsi protein untuk menyeimbangkan protein agar tercapai semua
populasi orang sehat disesuaikan dengan kelompok umur, jenis kelamin, ukuran
tubuh dan aktivitas fisik. Kecukupan karbohidrat sesuai dengan pola pangan yang
baik berkisar antara 50-65% total energi, sedangkan kecukupan lemak berkisar
antara 20-30% total energi (Hardinsyah dan Tambunan, 2004).
BAB
3
METODE
PENELITIAN
Metode
penelitian sebagai suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau
pemecahan suatu masalah.pada dasarnya menggunakan metode
ilmiah(Notoatmojo,2005:19). Metode penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.1 Jenis penelitian
Jenis
penelitian ini adalah deskriptif, yaitu statistic yang berfungsi untuk
mendeskripsikan atau member gambaran terhadap obyek yang di teliti melalui data
sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat
kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono, 2009;29). Penelitian ini bertuuan
untuk mengetahui gambaran siklus mentruasi berdasarkan status gizi pada siswi
kelas X dan XI Man Temboro Magetan.
3.2 Kerangka kerja
Kerangka
kerja merupakan pentahapan (langkah langkah dalam aktivitas imiah), mulai dari
penetapan populasi, sampel dan seterusnya, yaitu kegiatan sejak awal penelitian
akan dilaksanakan. Dalam kerangka kerja dijelaskan bagaimanaproses penelitian
dilakukan. Kerangka kerja pada penelitian ini di jabarkan pada gambar.
3.3 Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di Man Temboro Magetan. Waktu penelitian berlangsung mulai
bulan maret 2010 sampai juli 2010.
3.4 Populasi
dan sampel
Menurut
sugiyono(2009), populasi adalah wilayah yang terdiri atas obyek/subyek yeng
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siwsi kelas X dan XI Man Temboro Magetan yang berjumlah 330 anak
dengan criteria 1 tahu menarche .
dala penelitian ini seluruh populasi dijadikan sampel penelitian.
3.5 Variabel penelitian
Menurut
Sugiyono(2009), variable penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa
saja yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh
informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesmpulannya. Variable
penelitian ini adalah gizi dan siklus mentruasi.
3.6 Definisi
Operasional
Definisi
operasional adalah definisi karakteristik yang diamati dari sesuatu yang
didefinisikan tersebut. Karakteristik yang diamat(diukur) itulah yang
meruapakan kunci definisi operasional (nursalam, 2008;101). Definisi operasional ini seperti
pada tabel.
|
No
|
Variabel
|
Definisi
|
Kriteria
|
Skala
|
|
1.
|
Status
gizi
|
Suatu
kondisi yang diukur berdasarkan indeks antopometri BB/U.
|
1.
lebih (. + 2 SD)
2.
Baik (≥ - 2 SD s/d + 2).
3.
Kurang (< - 2 SD s/d ≥ -3 SD)
4.
Buruk.(< - 3 SD)
|
Ordinal
|
|
2.
|
Siklus
Menruasi.
|
Jawaban
responden terhadap pertanyaan tentang siklus mentruasi yang terjadi pada
siswi
|
1.
Siklus mentruasi teratur : 21-35 hari sekali.
2.
Siklus mentruasi tidak teratur, < 21 hari atau > 35 hari sekali
|
Nominal
|
3.7 Teknik
pengumpulan data dan intrumen pengumpulan data.
3.7.1 Teknik pengumpulan data
Pengumpulan
data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan
karakteristik yang diperlukan dalam penelitian (Nursalam,2008:111). Pada
penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan menentukan siswi yang
memiliki criteria 1 tahun dari menarche kemudian
dilakukan pengukuran berat badan serta penentuan umur dan mengklasifikasikan
status gizi siswi termasuk baik,lebih,kurang atau buruk. Sedangkan untuk
mengetahui siklus mentruasi teratur atau tidak teratur dilakukan wawancara dengan
siswi yang terpilih sebagai responden.
3.7.2 Intrumen pengumpulan data
Intrumen
adalah alat – alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo,
2005:116). Intrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah timbangan injak
untuk menimbang berat badan siswa dan pedoman wawancara untuk siklus mentruasi.
3.8. Pengolahan dan analisis data
3.8.1 Pengolahan data
Teknik
pengolahan data merupakan kegiatan untuk merubah data mentah menjadi bentuk
data yang lebih ringkas, dan disajikan serta dianalis sebagai dasar pengambilan
keputusan (Arikunto, 2006:235-238). Menurut (Nazir 1999;406), dalam pengolahan
data terdiri dari 4 langkah, yaitu :
1. Editing
Editing ialah
memeriksa data yeng telah dikumpulkan baik berupa daftar pertanyaan, kartu atau
buku register (Budiarto, 2001;2009). Dalam penelitian ini editing dilakukan dilakukan
untuk memeriksa kembali semua data yang terkumpul melalui wawancara dengan
tujuan meneliti apakah hasil telah sesuai dengan rencana atau tujuan yang ingin
dicapai.
2. Coding
Coding ialah
pemberian kode terutama data klasifikasi untuk mempermudah pengolahan.
Pemberian kode dapat dilakukan sebelum atau sesudah pengumpulan data
dilaksanakan. Dalam pengolahan selanjutnya kode-kode tersebut dikembalikan ke
variable aslinya (Budiarto, 2002 : 30). Dalam penelitian ini memberikan kode 1
untuk status gizi lebih,kode 2 untuk status gizi baik,kode 3 untuk status gizi
kurang, dan 4 untuk status gizi buruk.
Sedang untuk jawaban kuosioner siklus mentruasi memberikan kode 1 untuk siklus
mentruasi teratur dan kode 2 untuk siklus
mentruasi tidak teratur.
3. Tabulating
Tabulating
ialah pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah,
disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis. Tabulasi dilakukan pada variable
siklus mentruasi, status gizi, dan tabulasi silang siklus mentruasi berdasarkan
status gizi.
3.8.2 Teknik analisa data
Variable
status gizi dengan indeks BB/U diklasifikasikan berdasarkan hasil perhitungan
rumus Z-score dalam supariasa dkk(2001), sebagai berikut :
Z-score =
Berdasarkan
baku rujukan WHO-NCHS. Nilai simpang baku rujukan diperoleh dari.
1). Bila hasil pengurangan NIS
terhadap NMBR adalah minus (-), maka NSBR merupakan hasil pengurangan NMBR
terhadap D.S.-1
2). Bila hasil pengurangan NIS
terhadap NMBR adalah plus (+), maka NSBR merupakan hasil pengurangan D.S.+1.
Hasil
perhitungan Z-score kemudian diformasikan ke dalam kriteria klasifikasi status
gizi berdasarkan indeks BB/U menurut Depkes RI(2004), yaitu :
Status
gizi lebih = > + 2 SD
Status
gizi baik = ≥ -2s/d + 2 SD
Status
gizi kurang = > -2 s/d ≥ - 3SD
Status
gizi buruk = > -3SD
Variable
siklus mentruasi dikategorikan menjadi dua yaitu siklus mentruasi teratur dan
tidak teratur.
Siklus mentruasi teratur = siklus mentruasi 21-35 hari
Siklus mentruasi tidak teratur = siklus mentruasi < 21 hari atau >35
hari.
Analis
data secara deskriptif dalam bentuk persentasi. Menurut sudijono(2006:42),
analisis menggunakan perhitungan persentase dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan
P = Persentase
F =
Frekuensi
N =
Number of case
Penyajian
data dalam bentuk table
3.9 Keterbatasan
Burn
dan Grove (1991) dalam Nursalam (2001:73). Keterbatasan adalah kelemahan dan
hambatan dalam penelitian. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah faktor yang
mempengaruhi siklus mentruasi selain status gizi yang tidak dikendalikan. Pengkajian
mengenai faktor yang mempengaruhi status gizi dan siklus mentruasi belum
dilakukan secara mendalam.
3.10 Etik penelitian
Dalam
melakukan penelitian, peneliti mendapat izin dari Badan Kesatuan Bangsa,
Politik, dan perlindungan Masyarakat berdasarkan rekomendasi dari Program Studi
Kebidanan Magetan dan kemudian melanjutkann izin kepada kepala sekolah Man
Temboro Magetan. Setelah izin penelitian diperoleh,maka selanjutnya dilakukan
penelitian sesuai metode yang telah ditentukan dengan menekankan prinsip etik
sebagi berikut:
1. Informal consent (persetujuan subyek peneliti)
Subjek harus
mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian yang akan
dilaksanakan, mempunyai hak untuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi
responden. Peneliti memberikan lembar permohonan dan lembar persetujuan kepada
responden yang harus ditandatangani bila bersedia menjadi responden. Dalam
penelitian ini, seluruh responden bersedia menjadi subjek penelitian.
2 Anomity (kerahasiaan nama/identitas)
Untuk menjaga
kerahasiaan indentitas responden, peneliti tidak akan mencatumkan nama pada
lembar pengumpulan data yang akan diisi oleh responden. Peneliti hanya
menuliskan nama inisial subjek dan memberi nomor urut pada seluruh subyek.
Lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu.
3. Confidentiality (kerahasiaan hasil)
Kerahasiaan
informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti. Data tersebut
hanya disajikan atau dilaporkan beberapa kelompok yang berhubungan dengan
penelitian. Informasi yang berkaitan dengan data-data responden dijaga
kerahasiaannya oleh peneliti. Informasi hanya akan disajikan pada kelompok
tertentu sebagai hasil penelitian dan pengembangan ilmu.
DAFTAR PUSTAKA
Anindya.2009.Menstruai.http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/231 mentruasi.html
Diakses 5 januari 2008 pukul 22.00 WIB.
Anonim. 2003.
Program Penanggulangan Anemia Gizi Pada Wanita Usia Subur (WUB).Jakarta
: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Indriastuti, M. 2005. Hubungan antara
siklus mentruasi dengan status gizi. Skripsi: tidak
diterbitkan. Salatiga: Fakultas kedokteran-Universitas Indonesia.
Jayanti, J.D. 2006. Hubungan stres fisik dengan siklus mentruasi remaja. Skripsi:
tidak diterbitkan. Salatiga: Fakultas kedokteran-Indonesia.
Budiarto, Eko. 2002. Biostatistik
Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
EGC
Dayanti, Wiwin. 2004. Hubungan Status
Gizi (Indeks BB/U) Dan Frekuensi Olahraga
Dngan Pola Siklus Menstruasi Pada Siswi SMP 1 Galur Kabupaten Kulonprogo, http://fkm.undip.ac.id. Diakses 5 Januari pukul 21:45
WIB
Depkes RI, 2008. Solusi Mengatasi
Overweight dan Obesitas.
http://www.dr-rocky.com. Diakses 11 Januari 2014 pukul 15:00
Khairina,
Desy. 2008. Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Siklus Haid. Fakultas
Kedokteran Muhammadiyah Universitas Indonesia. Diakses 15 Januari 2014 pukul
13:50 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar