Senin, 12 Mei 2014

tugas akhir semester 1 mata kuliah bahasa indonesia poltekkes kemenkes surabaya prodi kebidanan magetan



GAMBARAN SIKLUS MENTRUASI BERDASARKAN STATUS GIZI SISWI
MAN TEMBORO MAGETAN
Tugas Akhir
Untuk memenuhi Ujian Akhir Semester Mata kuliah
Bahasa Indonesia
Yang diampu oleh:
DWI ROHMAN SOLEH, S.S.,M.Pd










Oleh:
LUTFI KHOLIFATUL JANNAH
P27824213036

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
KAMPUS MAGETAN
MAGETAN
2014


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan karunia Nya sehingga penyusunan karya tulis ilmiah yang berjudul “Gambaran Siklus Mentruasi Berdasarkan Status Gizi Pada Siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan” dapat terselesaikan. Karya tulis ilmiah ini disusun sebagai tugas akhir semester satu pada studi Kebidanan Magetan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.
            Dalam penyusunan karya ilmiah ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ibu Sulikah S.ST,M. M.Kes, selaku kaprodi Studi Kebidanan Magetan Politeknik Kesehatan Surabaya.
2. Bapak Dwi Rohman Sholeh, S.S.,M.Pd selaku pembimbing dalam pembuatan karya tulis ilmiah.
3. Ayah, ibu dan adik-adikku atas cinta, dukungan dan do’a yang selalu diberikan sehingga karya tulis ilmiah ini selesai pada waktunya.
4. Teman-teman yang selalu memberi dukungan.
            Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membantu demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Akhirnya peneliti berharap karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak.

          Magetan, Januari  2014





BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
            Ciri kedewasaan pada seorang wanita saat ini adalah terjadinya menstruasi. Mentruasi bukanlah suatu penyakit. Mentruasi merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda ia sudah mampu hamil. Menstruasi merupakan proses pelepasan dinding rahim (Endrometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi berulang-ulang setiap bulan, kecuali pada saat kehamilan. Mentruasi yang berulang setiap bulan akhirnya akan membentuk siklus mentruasi,siklus mentruasi adalah jarak antara tanggal mulainya mentruasi yang lalu dan mulainya mentruasi berikutnya. Siklus mentruasi setiap wanita tidak sama,umumnya berkisar antara 21-25 hari dan memiliki rata-rata 28 hari.
            Bagi remaja putri,mengalami siklus mentruasi tidak teratur pada masa-masa awal adalah hal yang normal. Remaja putri akan mengalami jarak antar dua siklus berlangsung selama dua bulan atau dalam satu bulan terjadi dua siklus dan setelah beberapa lama siklus mentruasi akan menjadi teratur. Siklus mentruasi remaja putri dipengaruhi oleh stress fisik (beban kerja yang terlalu berat, olahraga yang dipacu untuk berlatih terlalu keras), stress psikis, terlalu berat, dan terlalu kurus. Badan yang terlalu kurus pada remaja dapat mengakibatkan terjadinya gangguan siklus mentruasi. Hal itu bisa mengganggu axis (pelepasan oozit)yang mengakibatkan mentruasi terganggu. Sedangkan pada keadaan obesitas dapat memberikan dampak penyakit liver, kantung empedu, penyakit diabetes, penyakit tekanan darah tinggi, masalah tidur , dan pubertas atau menarche dini pada remaja putri.
            Adanya siklus mentruasi yang tidak teratur dapat berdampak serius bila terus di diamkan. Mentruasi tidak teratur dapat menjadi tanda seorang wanita kurang subur (infertil).dan dampak dari jumlah perdarahan yang banyak dapat menyebabkan seseorang mengalami anemia (kurang darah). Siklus mentruasi yang tidak teratur dapat dicegah dengan mengupayakan status gizi remaja putri pada kondisi normal. Penanganan yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi remaja adalah dengan memberikan asupan nutrisi yang optimal sehingga pertumbuhan potensialnya pun akan berlangsung  berlangsung dengan baik. Penanganan untuk remaja putri yang memiliki status gizi lebih adalah dengan memotivasi remaja obesitas tentang pentingnya pengurusan tubuh serta memberikan diet rendah kalori yang seimbang untuk pengurusan tubuh serta menganjurkan remaja obesitas untuk olahraga yang teratur.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah.
            Banyak hal penyebab kenapa siklus haid menjadi panjang atau sebaliknya. Penanganan kasus dengan siklus haid yang tidak normal, tidak berdasarkan kepada panjang atau pendeknya sebuah siklus haid, melainkan berdasarkan kelainan yang dijumpai seperti:
1.      Fungsi hormon terganggu
Haid terkait erat dengan sistem hormon yang diatur di otak, tepatnya di kelenjar hipofisa. Sistem hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung telur untuk memproduksi sel telur. Bila sistem pengaturan ini terganggu, otomatis siklus haid pun akan terganggu.
2.      Kelainan Sistemik
Tubuh sangat gemuk atau kurus dapat mempengaruhi siklus haid karena sistem metabolisme di dalam tubuhnya tak bekerja dengan baik, atau wanita yang menderita penyakit diabetes, juga akan mempengaruhi sistem metabolisme sehingga siklus haidnya pun tak teratur.
3.      Stress fisik dan stress psikis
Stress akan mengganggu sistem metabolisme di dalam tubuh, karena stress, wanita akan menjadi mudah lelah, berat badan turun drastis, bahkan sakit-sakitan, sehingga metabolisme terganggu. Bila metabolisme terganggu, siklus haid pun ikut terganggu.
4.      Kelenjar Gondok
Terganggunya fungsi kelenjar gondok/tiroid juga bisa menjadi penyebab tidak teraturnya siklus haid. Gangguan bisa berupa produksi kelenjar gondok yang terlalu tinggi (hipertiroid) maupun terlalu rendah, yang dapat mengakibatkan sistem hormonal tubuh ikut terganggu.
5.      Hormon prolaktin berlebih
Hormon prolaktin dapat menyebabkan seorang wanita tidak haid, karena memang hormon ini menekan tingkat kesuburan. Pada wanita yang tidak sedang menyusui, hormone prolaktin juga bisa tinggi, buasanya disebabkan kelainan pada kelenjar hipofisis yang terletak di dalam kepala (Sahara, 2009).

1.3 Pembatasan masalah
            Penelitian ini dibatasi pada gambaran siklus mentruasi berdasarkan status gizi pada siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan.
1.4 Rumusan masalah
            Dari latar belakang dan identifikasi factor penyebab masalah, peneliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Bagaimana gambaran siklus mentruasi berdasarkan  status gizi pada siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan ?”
1.5 Tujuan penelitian
1.5.1 Tujuan umum
            Mengetahui gambaran siklus mentruasi berdasarkan status gizi pada siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan.
1.5.2        Tujuan khusus
1.         Mengidentifikasi siklus mentruasi pada siswi kelas X dan XI Man Temboro MAgetan.
2.         Mengidentifikasi status gizi berdasarkan BB/U pada siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan
3.         Mengidentifikasi siklus mentruasi berdasarkan status gizi pada siswa kelas X dan XI Man Temboro Magetan.
4.         Mengetahui siklus mentruasi siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan
5.         Membuktikan hubungan antara status gizi pada siklus mentruasi siswi Man Temboro Magetan.
1.6      Manfaat Penelitian
1.6.1 Manfaat Teoritis
            Hasil penelitian menggambarkan siklus mentruasi siswa berdasarkan status gizi.
1.6.2        Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para siswi untuk menjaga status gizi dalam keadaan normal agar tidak terjadi gangguan siklus menstruasi. Penelitian ini juga dapat menjadi dasar dan masukan yang bermanfaat bagi penelitian selanjutnya.





BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
            Pada bab ini akan diuraikan tentang penelitian terdahulu, konsep status gizi dan konsep siklus mentruasi.
2.1 Penelitian terdahulu
            Penelitian dayanti (2004) dengan judul “Hubungan Status Gizi (Indeks BB/U) dan Frekuensi Olahraga Dengan Pola Siklus Mentruasi Pada Siswi SMP 1 Galur Kulon Progo”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status gizi berdasar pada indeks BB/U dan frekuensi olahraga dengan pola siklus mentruasi pada siswi SMP 1 Galur tahun 2004. Populasi penelitian ini adalah siswi kelas II yang sudah mengalami mentruasi berjumlah 70 orang. Jumlah sampel sebanyak 45 orang. Jenis penelitian adalah analitik, dengan pendekatan metode survey dan pendekatan waktu cross sectional, pengambilan data menggunakan kuosioner dan pengukuran antropometri.  Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi pearson product moment dan rank spearman dengan tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar perlu adanya tambahan pengetahuan kepada siswi bahwa melakukan olahraga secara teratur (3-4) perminggu dapat membantu menghindari pola siklus mentruasi yang tidak teratur serta dapat menjaga kesegaran jasmani.
2.2 Konsep status gizi
2.2.1 Pengertian
Gizi adalah elemen yang terdapat dalam makanan dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti halnya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Gizi yang seimbang dibutuhkan oleh tubuh, terlebih pada balita yang masih dalam masa pertumbuhan. Dimasa tumbuh kembang balita yang berlangsung secara cepat dibutuhkan makanan dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dan seimbang.
Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Status gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih (Almatsier, 2005).
 Status gizi normal merupakan suatu ukuran status gizi dimana terdapat keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan individu. Energi yang masuk ke dalam tubuh dapat berasal dari karbohidrat, protein, lemak dan zat gizi lainnya (Nix, 2005). Status gizi normal merupakan keadaan yang sangat diinginkan oleh semua orang (Apriadji, 1986).
 Status gizi kurang atau yang lebih sering disebut undernutrition merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari energi yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari anjuran kebutuhan individu (Wardlaw, 2007).
 Status gizi lebih  (overnutrition) merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh lebih besar dari jumlah energi yang dikeluarkan (Nix, 2005). Hal ini terjadi karena jumlah energi yang masuk melebihi kecukupan energi yang dianjurkan untuk seseorang, akhirnya kelebihan zat gizi disimpan dalam bentuk lemak yang dapat mengakibatkan seseorang menjadi gemuk (Apriadji, 1986).
2.2.2 Penelitian status gizi
            Menurut supariasa dkk (2001), status gizi dapat dinilai secara langsung maupun tidak langsung.
1.Penilaian secara langsung
   a. Antropometri
             Antropometri merupakan salah satu cara penilaian status gizi yang berhubungan dengan ukuran tubuh yang disesuaikan dengan umur dan tingkat gizi seseorang. Pada umumnya antropometri mengukur dimensi dan komposisi tubuh seseorang (Supariasa, 2001). Seperti umur, berat badan, tinggi badan, biokimia dan biofisik. Metode antropometri sangat berguna untuk melihat ketidakseimbangan energi dan protein. Akan tetapi, antropometri tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi zat-zat gizi yang spesifik (Gibson, 2005).
   b. Klinis
            Pemeriksaan klinis merupakan cara penilaian status gizi berdasarkan perubahan yang terjadi yang berhubungan erat dengan kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi. Pemeriksaan klinis dapat dilihat pada jaringan epitel yang terdapat di mata, kulit, rambut, mukosa mulut, dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh (kelenjar tiroid) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
   c. Biokimia
             Pemeriksaan biokimia disebut juga cara laboratorium. Pemeriksaan biokimia pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya defisiensi zat gizi pada kasus yang lebih parah lagi, dimana dilakukan pemeriksaan dalam suatu bahan biopsi sehingga dapat diketahui kadar zat gizi atau adanya simpanan di jaringan yang paling sensitif terhadap deplesi, uji ini disebut uji biokimia statis. Cara lain adalah dengan menggunakan uji gangguan fungsional yang berfungsi untuk mengukur besarnya konsekuensi fungsional dari suatu zat gizi yang spesifik. Untuk pemeriksaan biokimia sebaiknya digunakan perpaduan antara uji biokimia statis dan uji gangguan fungsional (Baliwati, 2004).
   d. Biofisik
            Pemeriksaan biofisik merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat kemampuan fungsi jaringan dan melihat perubahan struktur jaringan yang dapat digunakan dalam keadaan tertentu, seperti kejadian buta senja (Supariasa, 2001).
2. Penilaian status gizi secara tidak langsung
   a. Survei Konsumsi Makanan
            Survei konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh individu maupun keluarga. Data yang didapat dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif dapat mengetahui jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi, sedangkan data kualitatif dapat diketahui frekuensi makan dan cara seseorang maupun keluarga dalam memperoleh pangan sesuai dengan kebutuhan gizi (Baliwati, 2004).   
   b. Statistik Vital
            Statistik vital merupakan salah satu metode penilaian status gizi melalui data-data mengenai statistik kesehatan yang berhubungan dengan gizi, seperti angka kematian menurut umur tertentu, angka penyebab kesakitan dan kematian, statistik pelayanan kesehatan, dan angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan kekurangan gizi (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
   c. Faktor Ekologi
             Penilaian status gizi dengan menggunakan faktor ekologi karena masalah gizi dapat terjadi karena interaksi beberapa faktor ekologi, seperti faktor biologis, faktor fisik, dan lingkungan budaya. Penilaian berdasarkan faktor ekologi digunakan untuk mengetahui penyebab kejadian gizi salah (malnutrition) di suatu masyarakat yang nantinya akan sangat berguna untuk melakukan intervensi gizi (Supariasa, 2001)
2.3 Indeks  Antropometri
            Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri bisa merupakan rasio dari satu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur dan tingkat gizi. Salah satu contoh dari indeks antropometri adalah Indeks Massa Tubuh  (IMT) atau yang disebut dengan Body Mass Index (Supariasa, 2001).  IMT merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia Faktor-faktor harapan hidup yang lebih panjang. IMT hanya dapat digunakan untuk orang dewasa yang berumur diatas 18 tahun.
            Dua parameter yang berkaitan dengan pengukuran Indeks Massa Tubuh, terdiri dari :
1. Berat Badan
            Berat badan merupakan salah satu parameter massa tubuh yang paling sering digunakan yang dapat mencerminkan jumlah dari beberapa zat gizi seperti protein, lemak, air dan mineral. Untuk mengukur Indeks Massa Tubuh, berat badan dihubungkan dengan tinggi badan (Gibson, 2005). 
2. Tinggi Badan
            Tinggi badan merupakan parameter ukuran panjang dan dapat merefleksikan pertumbuhan skeletal (tulang) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).  
2.3.1. Cara Mengukur Indeks Massa Tubuh 
             Indeks Massa Tubuh diukur dengan cara membagi berat badan dalam satuan kilogram dengan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat (Gibson, 2005).
2.3.2 Kategori Indeks Massa Tubuh
            Untuk mengetahui status gizi seseorang maka ada kategori ambang batas IMT yang digunakan, seperti yang terlihat pada tabel 2.1 yang merupakan ambang batas IMT untuk Indonesia.
Kategori
Keterangan
IMG Kg/m2
Kurus
Kekurangan berat badan tingkat berat
< 17,0

Kekurangan berat badan tingkat ringan
17,1 – 18,4
Normal

18,5 – 25,0
Gemuk
Kelebihan berat badan tingkat ringan
25,1 – 27,0

Kelebihan berat badan tingkat berat
≥27,0
Sumber : Depkes, 2003b

             Pada tabel 2.2, dapat dilihat kategori IMT berdasarkan klasifikasi yang telah ditetapkan oleh WHO.
Tabel 2.2 Kategori IMT berdasarkan WHO (2000) 
Kategori IMT
(kg/m2)
Underweight
<18,5
Normal
18,5 – 24,99
Overweight
> 25,00
Preobese
25,00 – 29,99
Obesitas tingkat 1
30,00 – 34,99
Obesitas timgkat 2
35,00 – 34,99
Obesitas tingkat 3
> 40,00
Sumber : WHO (2000) dalam Gibson (2005)
2.4  Permasalahan gizi
            Masalah gizi di Indonesia dan Negara bekembang pada umumnya masih di dominasi oleh maslah KEP (kurang energy vitamin), masalah anemia besi, masalah GAKY (gangguan akibat kekurangan yodium), masalah KVA (kurang vitamin A), dan masalah obesitas terutama di kota-kota besar. Pada Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi tahun1993, telah terungkap bahwa Indonesia mengalami masalah gizi ganda yang artinya sementara masalah gizi kurang belum dapat diatasi secara menyeluruh, sudah muncul masalah baru, yaitu  berupa gizi lebih (Supariasa dkk,2001:1)
            Dalam Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (1979), digambarkan beberapa factor yang dapat menyebabkan timbulnya  masalah gizi serta kaitan satu fktor dengan factor yang lain.
Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi :
1.      Zat gizi dalam makanan
2.      Ada tidaknya program pemberian makanan diluar keluarga
3.      Daya beli keluarga
4.      Kebiasaan makanan sehari-hari
5.      Pemeliharaan kesehatan
6.      Lingkungan fisik dan social
(sumber : Cail dan Levimon, 1871 dalam Supariasa dkk(2001: 6))
Masalah gizi yang sering terjadi pada remaja adalah Anemia, gizi kurang (KEK) dan gizi lebih(kegemukan hingga obesitas)
1.   Anemia
a. Pengertian
        Anemia adalah rendahnya kadar hemoglobin(hb)dalam darah (Moehji, 2002:93),
b. Penyebab
           Penyebab anemia dapat bermacam-macam, akan tetapi yang paling banyak di temukan adalah akibat kekurangan zat besi, asam folat dan vitamin  B12. Anemia gizi dapat terjadi akibat rendahnya kadar zat besi dalam makanan, tetapi dapat juga karena akibat perdarahan yang banyak akibat penyakit kronis, penurunan produksi sel, pembesaran Limpa. Kerusakan mekanik pada sel darah merah. Penyakit hemoglobin C. Penyakit hemoglobin S-C. Thalasemia.Reaksi autonium terhadap sel darah merah. Kerusakan pada sumsum tulang atau ginjal. dan penghancuran sel yang berlebihan.
c. Diagnosis
           Rendahnya kadar Hb dalam darah dapat dilihat apabila bagian dalam kelopak mata terlihat berwarna pucat. Pemeriksaan lebih teliti dapat dilakukan terhadap contoh darah yang diambil dari ujung jari dengan menggunakan alat Hb meter. Kadar baku dalam darah untuk pria/wanita usia 10-14 adalah 12,5 (Moehji, 2002:93)
d. Komplikasi
           Dampak anemia pada remaja putri yaitu  tubuh pada masa pertumbuhan mudah terinfeksi, mengakibatkan kebugaran/kesegaran tubuh berkurang, mengurangi rasa semangat belajar, sehingga pada saat akan menjadi calon ibu dengan keadaan beresiko tinggi. (Anonim, 2004).
e. Pencegahan
           Pencegahan anemia akibat kekurangan gizi dapat dilakukan dengan jalan memberikan suplementasi zat besi kepada remaja putri. Tujuan pemberian suplementasi, meningkatkan status gizi & kesehatan remaja putri yang anemia, melihat efek suplementasi pada peningkatan kadar Hb dan zat besi/zinc dalam darah, melihat efek suplementasi pada penurunan kejadian sakit, melihat efek suplementasi pada peningkatan berat badan,tinggi badan dan indeks masa tubuh (Anonim,2004).
2. Masalah Gizi Kurang
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Gizi kurang merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat tidak terpenuhinya asupan makanan (Sampoerno, 1992).
Gizi kurang dapat terjadi karena seseorang mengalami kekurangan salah satu zat gizi atau lebih di dalam tubuh (Almatsier, 2001). Akibat yang terjadi apabila kekurangan gizi antara lain menurunnya kekebalan tubuh (mudah terkena penyakit infeksi), terjadinya gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, kekurangan energi yang dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja, dan sulitnya seseorang dalam menerima pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi (Jalal dan Atmojo, 1998).
Gizi kurang merupakan salah satu masalah gizi yang banyak dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang. Hal ini dapat terjadi karena tingkat pendidikan yang rendah, pengetahuan yang kurang mengenai gizi dan perilaku belum sadar akan status gizi. Contoh masalah kekurangan gizi, antara lain KEP (Kekurangan Energi Protein), GAKI(Gangguan Akibat Kekurangan Iodium), Anemia Gizi Besi (AGB) (Apriadji, 1986). 
3. Masalah Gizi Lebih
Status gizi lebih merupakan keadaan tubuh seseorang yang mengalami kelebihan berat badan, yang terjadi karena kelebihan jumlah asupan energi yang disimpan dalam bentuk cadangan berupa lemak. Ada yang menyebutkan bahwa masalah gizi lebih identik dengan kegemukan. Kegemukan dapat menimbulkan dampak yang sangat berbahaya yaitu dengan munculnya penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan ginjal dan masih banyak lagi (Soerjodibroto, 1993).
Masalah gizi lebih ada dua jenis yaitu overweight dan obesitas. Batas IMT untuk dikategorikan overweight adalah antara 25,1 – 27,0 kg/m2, sedangkan obesitas adalah ≥ 27,0 kg/m2. Kegemukan (obesitas) dapat terjadi mulai dari masa bayi, anak-anak, sampai pada usia dewasa. Kegemukan pada masa bayi terjadi karena adanya penimbunan lemak selama dua tahun pertama kehidupan bayi.  Bayi yang menderita kegemukan maka ketika menjadi dewasa akan mengalami kegemukan pula. Kegemukan pada masa anak-anak terjadi sejak anak tersebut berumur dua tahun sampai menginjak usia remaja dan secara bertahap akan terus mengalami kegemukan sampai usia dewasa. Kegemukan pada usia dewasa terjadi karena seseorang telah mengalami kegemukan dari masa anak-anak (Suyono, 1986). 
2.4  Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi
 2.4.1 Umur
Kebutuhan energi individu disesuaikan dengan umur, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas. Jika kebutuhan energi (zat tenaga) terpenuhi dengan baik maka dapat meningkatkan produktivitas kerja, sehingga membuat seseorang lebih semangat dalam melakukan pekerjaan. Apabila kekurangan energi maka produktivitas kerja seseorang akan menurun, dimana seseorang akan malas bekerja dan cenderung untuk bekerja lebih lamban. Semakin bertambahnya umur akan semakin meningkat pula kebutuhan zat tenaga bagi tubuh. Zat tenaga dibutuhkan untuk mendukung meningkatnya dan semakin beragamnya kegiatan fisik (Apriadji,1986). 
2.4.2. Frekuensi Makan
Frekuensi konsumsi makanan dapat menggambarkan berapa banyak makanan yang dikonsumsi seseorang. Menurut Hui (1985), sebagian besar remaja melewatkan satu atau lebih waktu makan, yaitu sarapan. Sarapan adalah waktu makan yang paling banyak dilewatkan, disusul oleh makan siang. Ada beberapa alasan yang menyebabkan seseorang malas untuk sarapan, antara lain mereka sedang dalam keadaan terburu-buru, menghemat waktu, tidak lapar, menjaga berat badan dan tidak tersedianya makanan yang akan dimakan. Melewatkan waktu makan dapat menyebabkan penurunan konsumsi energi, protein dan zat gizi lain (Brown et al, 2005).  Pada bangsa-bangsa yang frekuensi makannya dua kali dalam sehari lebih banyak orang yang gemuk dibandingkan bangsa dengan frekuensi makan sebanyak tiga kali dalam sehari. Hal ini berarti bahwa frekuensi makan sering dengan jumlah yang sedikit lebih baik daripada jarang makan tetapi sekali makan dalam jumlah yang banyak (Suyono, 1986). 
2.4.3. Asupan Energi
Energi merupakan asupan utama yang sangant diperlukan oleh tubuh. Kebutuhan energi yang tidak tercukupi dapat menyebabkan protein, vitamin, dan mineral tidak dapat digunakan secara efektif. Untuk beberapa fungsi metabolisme tubuh, kebutuhan energi dipengaruhi oleh BMR (Basal Metabolic Rate), kecepatan pertumbuhan, komposisi tubuh dan aktivitas fisik (Krummel & Etherton, 1996).  Energi yang  diperlukan oleh tubuh berasal dari energi kimia yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi. Energi diukur dalam satuan kalori. Energi yang berasal dari protein menghasilkan 4 kkal/gram, lemak 9 kkal/gram, dan karbohidrat 4 kkal/ gram (Baliwati, 2004). 
2.4.4. Asupan Protein
Protein merupakan zat gizi yang paling banyak terdapat dalam tubuh. Fungsi utama protein adalah membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier, 2001). Fungsi lain dari protein adalah menyediakan asam amino yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolisme, mengatur keseimbangan air, dan mempertahankan kenetralan asam basa tubuh. Pertumbuhan, kehamilan, dan infeksi penyakit meningkatkan kebutuhan protein seseorang (Baliwati, 2004). Sumber makanan yang paling banyak mengandung protein berasal dari bahan makanan hewani, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sedangkan sumber protein nabati berasal dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Catatan Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 1999, menunjukkan secara nasional konsumsi protein sehari rata-rata penduduk Indonesia adalah 48,7 gram sehari (Almatsier, 2001). Anjuran asupan protein berkisar antara 10 – 15% dari total energi (WKNPG, 2004). 
2.4.5. Asupan Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi kehidupan manusia yang dapat diperoleh dari alam, sehingga harganya pun relatif murah (Djunaedi, 2001). Sumber karbohidrat berasal dari padi-padian atau serealia, umbi-umbian, kacang-kacangan dan gula. Sumber karbohidrat yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai makanan pokok adalah beras, singkong, ubi, jagung, talas, dan sagu (Almatsier, 2001). Karbohidrat menghasilkan 4 kkal / gram. Angka kecukupan karbohidrat sebesar 50-65% dari total energi. (WKNPG, 2004). WHO (1990) menganjurkan agar 55 – 75% konsumsi energi total berasal dari karbohidrat kompleks. Karbohidrat yang tidak mencukupi di dalam tubuh akan digantikan dengan protein untuk memenuhi kecukupan energi. Apabila karbohidrat tercukupi, maka protein akan tetap berfungsi sebagai zat pembangun (Almatsier, 2001).   
2.4.6. Asupan Lemak
Lemak merupakan cadangan energi di dalam tubuh. Lemak terdiri dari trigliserida, fosfolipid, dan sterol, dimana ketiga jenis ini memiliki fungsi terhadap kesehataan tubuh manusia (WKNPG, 2004). Konsumsi lemak paling sedikit adalah 10% dari total energi. Lemak menghasilkan 9 kkal/ gram. Lemak relatif lebih lama dalam sistem pencernaan tubuh manusia. Jika seseorang mengonsumsi lemak secara berlebihan, maka akan mengurangi konsumsi makanan lain. Berdasarkan PUGS, anjuran konsumsi lemak tidak melebihi 25% dari total energi dalam makanan sehari-hari. Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan, seperti minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, jagung, dan sebagainya. Sumber lemak utama lainnya berasal dari mentega, margarin, dan lemak hewan (Almatsier, 2001). 
2.4.7. Tingkat Pendidikan
Pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka sangat diharapkan semakin tinggi pula pengetahuan orang tersebut mengenai gizi dan kesehatan. Pendidikan yang tingggi dapat membuat seseorang lebih memperhatikan makanan untuk memenuhi asupan zat-zat gizi yang seimbang. Adanya pola makan yang baik dapat mengurangi bahkan mencegah dari timbulnya masalah yang tidak diinginkan mengenai gizi dan kesehatan (Apriadji, 1986).
Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, akan mudah dalam menyerap dan menerapkan informasi gizi, sehingga diharapkan dapat menimbulkan perilaku dan gaya hidup yang sesuai dengan informasi yang didapatkan mengenai gizi dan kesehatan. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan (WKNPG, 2004).  Pendidikan juga berperan penting dalam meningkatkan status gizi seseorang. Pada umumnya tingkat pendidikan pembantu rumah tangga masih rendah (tamat SD dan tamat SMP). Pendidikan yang rendah sejalan dengan pengetahuan yang rendah, karena dengan pendidikan rendah akan membuat seseorang sulit dalam menerima informasi mengenai hal-hal baru di lingkungan sekitar, misalnya pengetahuan gizi.
Pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi sangat diperlukan oleh pembantu rumah tangga. Selain untuk diri sendiri, pendidikan dan pengetahuan gizi yang diperoleh dapat dipraktekkan dalam pekerjaan yang mereka lakukan.  
2.4.8 Pendapatan
Pendapatan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status gizi, Pembantu rumah tangga mendapatkan gaji (pendapatan) yang masih di bawah UMR (Gunanti, 2005). Besarnya gaji yang diperoleh terkadang tidak sesuai dengan banyaknya jenis pekerjaan yang dilakukan. Pendapatan seseorang akan menentukan kemampuan orang tersebut dalam memenuhi kebutuhan makanan sesuai dengan jumlah yang diperlukan oleh tubuh. Apabila makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi jumlah zat-zat gizi dibutuhkan oleh tubuh, maka dapat mengakibatkan perubahan pada status gizi seseorang (Apriadji, 1986). 
Ada dua aspek kunci yang berhubungan antara pendapatan dengan pola konsumsi makan, yaitu pengeluaran makanan dan tipe makanan yang dikonsumsi. Apabila seseorang memiliki pendapatan yang tinggi maka dia dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya (Gesissler, 2005).  Meningkatnya pendapatan perorangan juga dapat menyebabkan perubahan dalam susunan makanan. Kebiasaan makan seseorang berubah sejalan dengan berubahnya pendapatan seseorang (Suhardjo, 1989). Meningkatnya pendapatan seseorang merupakan cerminan dari suatu kemakmuran. Orang yang sudah meningkat pendapatannya, cenderung untuk berkehidupan serba mewah. Kehidupan mewah dapat mempengaruhi seseorang dalam hal memilih dan membeli jenis makanan. Orang akan mudah membeli makanan yang tinggi kalori. Semakin banyak mengonsumsi makanan berkalori tinggi dapat menimbulkan kelebihan energi yang disimpan tubuh dalam bentuk lemak. Semakin banyak lemak yang disimpan di dalam tubuh dapat mengakibatkan kegemukan (Suyono, 1986). 
2.4.9. Pengetahuan
Tingkat pendidikan seseorang sangat mempengaruhi tingkat pengetahuannya akan gizi. Orang yang memiliki tingkat pendidikan hanya sebatas tamat SD, tentu memiliki pengetahuan yang lebih rendah dibandingkan orang dengan tingkat pendidikan tamat SMA atau Sarjana. Tetapi, sebaliknya, seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi sekalipun belum tentu memiliki pengetahuan gizi yang cukup jika ia jarang mendapatkan informasi mengenai gizi, baik melalui media iklan, penyuluhan, dan lain sebagainya. Tetapi, perlu diingat bahwa rendah-tingginya pendidikan seseorang juga turut menentukan mudah tidaknya orang tersebut dalam menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Berdasarkan hal ini, kita dapat menentukan metode penyuluhan gizi yang tepat.
 Di samping itu, dilihat dari segi kepentingan gizi keluarga, pendidikan itu sendiri amat diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga dan dapat mengambil tindakan secepatnya (Apriadji, 1986). Pengetahuan gizi sangat penting, dengan adanya pengetahuan tentang zat gizi maka seseorang dengan mudah mengetahui status gizi mereka. Zat gizi yang cukup dapat dipenuhi oleh seseorang sesuai dengan makanan yang dikonsumsi yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan. Pengetahuan gizi dapat memberikan perbaikan gizi pada individu maupun masyarakat (Suhardjo, 1986).  
2.5 Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan
Angka kecukupan gizi yang dianjurkan merupakan suatu ukuran keckupan rata-rata zat gizi setiap hari untuk semua orang yang disesuiakan dengan golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, aktivitas tubuh untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal dan mencegah terjadinya defisiensi zat gizi (Depkes, 2005b). Angka Kecukupan Energi (AKE) merupakan rata-rata tingkat konsumsi energi dengan pangan yang seimbang yang disesuaikan dengan pengeluaran energi pada kelompok umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan aktivitas fisik. Angka Kecukupan Protein (AKP) merupakan rata-rata konsumsi protein untuk menyeimbangkan protein agar tercapai semua populasi orang sehat disesuaikan dengan kelompok umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas fisik. Kecukupan karbohidrat sesuai dengan pola pangan yang baik berkisar antara 50-65% total energi, sedangkan kecukupan lemak berkisar antara 20-30% total energi (Hardinsyah dan Tambunan, 2004).










BAB 3
METODE PENELITIAN
            Metode penelitian sebagai suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah.pada dasarnya menggunakan metode ilmiah(Notoatmojo,2005:19). Metode penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.1 Jenis penelitian
            Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yaitu statistic yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau member gambaran terhadap obyek yang di teliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono, 2009;29). Penelitian ini bertuuan untuk mengetahui gambaran siklus mentruasi berdasarkan status gizi pada siswi kelas X dan XI Man Temboro Magetan.
3.2 Kerangka kerja
            Kerangka kerja merupakan pentahapan (langkah langkah dalam aktivitas imiah), mulai dari penetapan populasi, sampel dan seterusnya, yaitu kegiatan sejak awal penelitian akan dilaksanakan. Dalam kerangka kerja dijelaskan bagaimanaproses penelitian dilakukan. Kerangka kerja pada penelitian ini di jabarkan pada gambar.
3.3 Lokasi dan waktu penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di Man Temboro Magetan. Waktu penelitian berlangsung mulai bulan maret 2010 sampai juli 2010.
3.4  Populasi dan sampel
            Menurut sugiyono(2009), populasi adalah wilayah yang terdiri atas obyek/subyek yeng mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siwsi kelas X dan XI Man Temboro Magetan yang berjumlah 330 anak dengan criteria 1 tahu menarche . dala penelitian ini seluruh populasi dijadikan sampel penelitian.
3.5 Variabel penelitian
            Menurut Sugiyono(2009), variable penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesmpulannya. Variable penelitian ini adalah gizi dan siklus mentruasi.
3.6  Definisi Operasional
            Definisi operasional adalah definisi karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang diamat(diukur) itulah yang meruapakan kunci definisi operasional (nursalam,  2008;101). Definisi operasional ini seperti pada tabel.
No
Variabel
Definisi
Kriteria
Skala
1.
Status gizi
Suatu kondisi yang diukur berdasarkan indeks antopometri BB/U.
1. lebih (. + 2   SD)
2. Baik (≥ - 2 SD s/d + 2).
3. Kurang (< - 2 SD s/d ≥ -3 SD)
4. Buruk.(< - 3 SD)

Ordinal
2.
Siklus Menruasi.
Jawaban responden terhadap pertanyaan tentang siklus mentruasi yang terjadi pada siswi
1. Siklus mentruasi teratur : 21-35 hari sekali.
2. Siklus mentruasi tidak teratur, < 21 hari atau > 35 hari sekali

Nominal

3.7  Teknik pengumpulan data dan intrumen pengumpulan data.
3.7.1 Teknik pengumpulan data
           Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karakteristik yang diperlukan dalam penelitian (Nursalam,2008:111). Pada penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan menentukan siswi yang memiliki criteria 1 tahun dari menarche kemudian dilakukan pengukuran berat badan serta penentuan umur dan mengklasifikasikan status gizi siswi termasuk baik,lebih,kurang atau buruk. Sedangkan untuk mengetahui siklus mentruasi teratur atau tidak teratur dilakukan wawancara dengan siswi yang terpilih sebagai responden.
3.7.2 Intrumen pengumpulan data
           Intrumen adalah alat – alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo, 2005:116). Intrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah timbangan injak untuk menimbang berat badan siswa dan pedoman wawancara untuk siklus mentruasi.
3.8. Pengolahan dan analisis data
3.8.1 Pengolahan data
           Teknik pengolahan data merupakan kegiatan untuk merubah data mentah menjadi bentuk data yang lebih ringkas, dan disajikan serta dianalis sebagai dasar pengambilan keputusan (Arikunto, 2006:235-238). Menurut (Nazir 1999;406), dalam pengolahan data terdiri dari 4 langkah, yaitu :
1. Editing
           Editing ialah memeriksa data yeng telah dikumpulkan baik berupa daftar pertanyaan, kartu atau buku register (Budiarto, 2001;2009). Dalam penelitian ini editing  dilakukan dilakukan untuk memeriksa kembali semua data yang terkumpul melalui wawancara dengan tujuan meneliti apakah hasil telah sesuai dengan rencana atau tujuan yang ingin dicapai.
2. Coding
           Coding ialah pemberian kode terutama data klasifikasi untuk mempermudah pengolahan. Pemberian kode dapat dilakukan sebelum atau sesudah pengumpulan data dilaksanakan. Dalam pengolahan selanjutnya kode-kode tersebut dikembalikan ke variable aslinya (Budiarto, 2002 : 30). Dalam penelitian ini memberikan kode 1 untuk status gizi lebih,kode 2 untuk status gizi baik,kode 3 untuk status gizi kurang, dan  4 untuk status gizi buruk. Sedang untuk jawaban kuosioner siklus mentruasi memberikan kode 1 untuk siklus mentruasi teratur dan kode 2 untuk siklus  mentruasi tidak teratur.
3. Tabulating
           Tabulating ialah pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis. Tabulasi dilakukan pada variable siklus mentruasi, status gizi, dan tabulasi silang siklus mentruasi berdasarkan status gizi.
3.8.2 Teknik analisa data
           Variable status gizi dengan indeks BB/U diklasifikasikan berdasarkan hasil perhitungan rumus Z-score dalam supariasa dkk(2001), sebagai berikut :
Z-score            =
           Berdasarkan baku rujukan WHO-NCHS. Nilai simpang baku rujukan diperoleh dari.
1). Bila hasil pengurangan NIS terhadap NMBR adalah minus (-), maka NSBR merupakan hasil pengurangan NMBR terhadap D.S.-1
2). Bila hasil pengurangan NIS terhadap NMBR adalah plus (+), maka NSBR merupakan hasil pengurangan D.S.+1.
           Hasil perhitungan Z-score kemudian diformasikan ke dalam kriteria klasifikasi status gizi berdasarkan indeks BB/U menurut Depkes RI(2004), yaitu :
           Status gizi lebih            =          > + 2 SD
           Status gizi baik             =          ≥ -2s/d + 2 SD
           Status gizi kurang         =          > -2 s/d ≥ - 3SD
           Status gizi buruk           =          > -3SD
           Variable siklus mentruasi dikategorikan menjadi dua yaitu siklus mentruasi teratur dan tidak teratur.
Siklus mentruasi teratur          = siklus mentruasi 21-35 hari
Siklus mentruasi tidak teratur = siklus mentruasi < 21 hari atau >35 hari.
           Analis data secara deskriptif dalam bentuk persentasi. Menurut sudijono(2006:42), analisis menggunakan perhitungan persentase dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan
P          =  Persentase
F          =  Frekuensi
N         =  Number of case
           Penyajian data dalam bentuk table
3.9 Keterbatasan
           Burn dan Grove (1991) dalam Nursalam (2001:73). Keterbatasan adalah kelemahan dan hambatan dalam penelitian. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah faktor yang mempengaruhi siklus mentruasi selain status gizi yang tidak dikendalikan. Pengkajian mengenai faktor yang mempengaruhi status gizi dan siklus mentruasi belum dilakukan secara mendalam.
3.10 Etik penelitian
           Dalam melakukan penelitian, peneliti mendapat izin dari Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan perlindungan Masyarakat berdasarkan rekomendasi dari Program Studi Kebidanan Magetan dan kemudian melanjutkann izin kepada kepala sekolah Man Temboro Magetan. Setelah izin penelitian diperoleh,maka selanjutnya dilakukan penelitian sesuai metode yang telah ditentukan dengan menekankan prinsip etik sebagi berikut:
1. Informal consent (persetujuan subyek peneliti)
           Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai hak untuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden. Peneliti memberikan lembar permohonan dan lembar persetujuan kepada responden yang harus ditandatangani bila bersedia menjadi responden. Dalam penelitian ini, seluruh responden bersedia menjadi subjek penelitian.
2 Anomity (kerahasiaan nama/identitas)
           Untuk menjaga kerahasiaan indentitas responden, peneliti tidak akan mencatumkan nama pada lembar pengumpulan data yang akan diisi oleh responden. Peneliti hanya menuliskan nama inisial subjek dan memberi nomor urut pada seluruh subyek. Lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu.
3. Confidentiality  (kerahasiaan  hasil)
           Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti. Data tersebut hanya disajikan atau dilaporkan beberapa kelompok yang berhubungan dengan penelitian. Informasi yang berkaitan dengan data-data responden dijaga kerahasiaannya oleh peneliti. Informasi hanya akan disajikan pada kelompok tertentu sebagai hasil penelitian dan pengembangan ilmu.
          
















           
DAFTAR PUSTAKA
Anindya.2009.Menstruai.http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/231                           mentruasi.html Diakses 5 januari 2008 pukul 22.00 WIB.
Anonim. 2003. Program Penanggulangan Anemia Gizi Pada Wanita Usia Subur                        (WUB).Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Indriastuti, M. 2005. Hubungan antara siklus mentruasi dengan status gizi.                         Skripsi: tidak diterbitkan. Salatiga: Fakultas kedokteran-Universitas      Indonesia.
Jayanti, J.D. 2006. Hubungan stres fisik dengan siklus mentruasi remaja.                                         Skripsi: tidak diterbitkan. Salatiga: Fakultas kedokteran-Indonesia.
Budiarto, Eko. 2002. Biostatistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.                            Jakarta: EGC
Dayanti, Wiwin. 2004. Hubungan Status Gizi (Indeks BB/U) Dan Frekuensi                                   Olahraga Dngan Pola Siklus Menstruasi Pada Siswi SMP 1 Galur                                           Kabupaten Kulonprogo, http://fkm.undip.ac.id. Diakses 5 Januari pukul                                 21:45 WIB
Depkes RI, 2008. Solusi Mengatasi Overweight dan Obesitas.                                                          http://www.dr-rocky.com. Diakses 11 Januari 2014 pukul 15:00
Khairina, Desy. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Siklus Haid.                                           Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Universitas Indonesia. Diakses 15                               Januari 2014 pukul 13:50 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar